Workshop Pemeranan di Sepekan Teater Pontianak: Menjelajahi “Acting” dan Metode Suzuki

Pontianak, 10 November 2025 Hari kedua rangkaian “Sepekan Teater” Pontianak yang diselenggarakan oleh Langkau Etnika ditandai dengan gelaran Workshop Pemeranan yang berlangsung di PORT 99, Jalan Kom Yos Soedarso Jeruju, Pontianak, pada Senin (10/11/2025). Kegiatan yang dimulai pukul 10.00 hingga 15.00 WIB ini diikuti oleh 50 peserta dari berbagai latar belakang mulai dari pelajar dan mahasiswa termasuk 11 anggota dari Komunitas Santri (KOMSAN) IAIN Pontianak dan perwakilan dari sejumlah sanggar teater lokal.

Workshop ini hadir sebagai respons atas kebutuhan akan pelatihan teknis pemeranan yang mendalam bagi para pegiat teater di Pontianak. Dua narasumber utama dihadirkan untuk memperkaya wawasan peserta: Fauzi Yunanda, S.Sn., M.Sn., yang membahas prinsip dasar acting, dan Siti Dexara Hachika, S.Sn., M.Sn., yang memperkenalkan Suzuki Method, teknik pelatihan akting yang dikembangkan oleh seniman teater ternama asal Jepang, Tadashi Suzuki.

Fauzi membuka sesi dengan penekanan pada “kehadiran tubuh dan kejujuran emosi” sebagai fondasi utama akting. Melalui latihan improvisasi dan eksplorasi karakter, peserta diajak memahami bagaimana seorang aktor harus menjadi “alat hidup” yang peka terhadap ruang, naskah, dan sesama pemain.

“Acting bukan sekadar berpura – pura melainkan soal keberanian untuk jujur di atas panggung dan di luar panggung,” ujar Fauzi, yang dikenal aktif dalam berbagai proyek teater eksperimental di Pontianak.

Di sesi kedua, Siti Dexara Hachika mengajak peserta merasakan kekuatan fisik dan disiplin tubuh melalui pendekatan Suzuki Method. Metode ini menekankan postur tubuh, stabilitas pusat gravitasi, dan kontrol napas sebagai dasar ekspresi teatrikal suatu pendekatan yang diajarkan di workshop tersebut. 

“Suzuki tidak hanya melatih akting, tapi juga membangun kesadaran tubuh sebagai medium ekspresi budaya,” jelas Dexara, yang pernah mengikuti pelatihan langsung di Suzuki Company of Toga (SCOT) di Jepang.

Salah satu peserta paling antusias datang dari KOMSAN IAIN Pontianak. Muhammad Irvan, Ketua KOMSAN, menyatakan bahwa pelatihan ini membuka cakrawala baru bagi anggota komunitas santri yang ingin mengeksplorasi seni peran tanpa meninggalkan nilai nilai spiritual.

“Kami percaya, tubuh yang disiplin dan jiwa yang jujur adalah fondasi baik untuk acting dan juga untuk kehidupan,” ujarnya usai mengikuti latihan fisik berbasis Suzuki.

Abdul Karim, Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan Komunitas Santri, menilai workshop ini sebagai langkah strategis dalam membangun fondasi berkelanjutan bagi ekosistem sanggar teater yang ada di Pontianak. “Kami tidak hanya ingin menggelar pertunjukan, tapi juga memastikan ada regenerasi aktor yang kompeten, kritis, dan berakar pada konteks lokal,” katanya.

Suasana di PORT 99 ruang kreatif yang biasa menjadi tempat berkumpulnya seniman muda Pontianak hari ini berubah menjadi laboratorium tubuh dan suara, tawa, teriakan latihan vokal, dan langkah - langkah berat dalam latihan Suzuki mengisi ruangan, menciptakan harmoni unik antara disiplin dan kebebasan artistik.

Di penghujung sesi, banyak peserta mengungkapkan harapan agar pelatihan seperti ini bisa berlangsung secara berkala. Bagi mereka, bukan sekadar teknik yang dipelajari, tapi keyakinan bahwa teater dalam segala bentuk dan metodenya masih relevan sebagai ruang dialog, kritik, dan pencarian jati diri.

Dengan dua metode yang berbeda namun saling melengkapi, Workshop Pemeranan hari ini tidak hanya melatih tubuh dan suara, tapi juga menyalakan kembali semangat bermain dalam arti paling murni dan revolusioner.

Penulis: Ibrahim Malik  

Editor: Humas KOMSAN






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Workshop Penyutradaraan Dorong Regenerasi Pegiat Teater di Pontianak

Rapat Anggota Komsan

HUT Komsan (ke-30) IAIN Pontianak