Hadir lagi?!! UKM Teater Komsan Persembahkan DEMO-"KREASI"
Dalam inovasi teater yang inovatif, UKM Teater Komsan dengan bangga memperkenalkan DEMO-"KREASI", sebuah adaptasi yang merangsang secara intelektual yang berasal dari monolog "Demokrasi" karya Putu Wijaya, yang dibuat secara artistik oleh Ali Wafan yang cerdik. Disutradarai oleh XMRidho yang visioner dan ditonton oleh Mael yang terhormat, pertunjukan teatrikal yang berdurasi lebih dari satu jam ini mengungkap Kisah Satir dengan alur cerita yang tidak terduga, akan memukau penonton selama dua hari mulai tanggal 22 hingga 23 Desember 2023, di Aula menampilkan Abdul Rani ,IAIN Pontianak.
Masuki dunia di mana kecerdasan terjalin dengan kreativitas. Selami dunia DEMO-"KREASI" yang menawan, sebuah mahakarya teater yang dihidupkan oleh kecemerlangan UKM Teater Komsan yang tak tertandingi. Bayangkan sebuah pengalaman yang lebih dari sekedar hiburan, membenamkan Anda dalam narasi yang menggugah pikiran yang menyelami seluk-beluk dinamika masyarakat dan aspek-aspek demokrasi yang teka-teki penuh.
Saat tirai dibuka, saksikan perpaduan seni dan intelektualitas, yang dengan indah merangkai esensi “Demokrasi” Putu Wijaya menjadi permadani kecemerlangan teatrikal, yang didalangi oleh Ali Wafan yang cerdik. Disutradarai di bawah pengawasan XMRidho, tontonan teatrikal ini menjanjikan kegembiraan selama satu jam lebih, membuat penonton terpesona oleh alur cerita dan narasi yang menggugah pikiran.
Aula Abdul Rani IAIN Pontianak menjadi panggung di mana realitas saling terkait, keharusan batas antara norma masyarakat dan seluk-beluk politik. Melalui arahan yang cermat dan penampilan yang sempurna, DEMO-"KREASI" menghadirkan kisah sindiran yang mengungkap kompleksitas dan nuansa demokrasi dalam masyarakat. Mulai dari musikalisasi puisi yang menyayat hati hingga penggambaran perjuangan masyarakat yang menyentuh hati, setiap momen terpatri jauh di dalam jiwa penonton, menimbulkan kontemplasi mendalam dan resonansi emosional.
Tepat pada hari Jumat menambah pengalaman dengan diskusi mendalam yang dipimpin oleh pembicara terkemuka. Bersama Arif Adi Purwoko, S.Fil., dan Dr. Firdaus Achmad, M.Hum, juga dengan kakak Sammira, S.Hub, M.Hub.Int., yang kemarin mereka menavigasi wacana yang menggugah pikiran.
Dan salah satu Mahasiswa IAIN Pontianak , Gagah Ghaisan Atur Atman Bertanya, yang sebelumnya mengutip Dr. Firdaus Achmad, M.Hum., yang menyoroti peran teater sebagai kritik sosial. Dalam konteks Sila Ke-2, kemanusiaan yang adil dan beradab, Gagah mencermati ketidakadilan di daerah salah satu kampung di Ketapang dan Sekadau, di mana warga kecil merasa terpinggirkan dari hak-hak dasar seperti pendidikan, pekerjaan, dan tempat tinggal.
Keputusan politik 2024 di suatu wilayah kampung pun menimbulkan kekhawatiran, dengan kepala suku yang menguasai setiap suara dari masing-masing warganya. Dari sini dapat dilihat Gagah menyimpulkan bahwa demokrasi di Indonesia, meskipun pada dasarnya kebebasan, terlihat terhambat oleh batasan kekuasaan. Dengan menyarankan penerapan norma-norma Pancasila sebagai solusi untuk mengatasi konflik dan ketidakadilan, menjadikan pertanyaannya: sejauh mana demokrasi Indonesia dapat dianggap baik atau buruk?
Pertanyaan mengenai sejauh mana demokrasi Indonesia dapat dianggap baik atau buruk melibatkan kompleksitas berbagai aspek. Solusinya mungkin mencakup peningkatan pemahaman dan partisipasi masyarakat dalam proses politik, transparansi dalam pengambilan keputusan politik, dan penegakan hukum untuk mencegah kekuasaan. Selain itu, mendukung pendidikan dan pemberdayaan masyarakat di tingkat lokal dapat membantu mengurangi ketidakadilan. Penting untuk terus memadukan dan menilai efektivitas demokrasi dengan memperhatikan partisipasi warga dan penghormatan terhadap nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara.
"Momen Alam"
Siap menerima cahaya pertama
Yang melengkung hening
Karena akan menerima suara-suara
Ketika matahari mengembang tenang di atas kepala
Dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk Cemara
Yang hijau selamanya, yang tak henti-hentinya
Mengajukan pertanyaan musik kepada angin
Siap menerima cahaya pertama yang melengkung hening
Karena bisa menerima suara-suara
Ketika matahari mengembang dengan tenang di atas kepala
Ketika matahari mengembang dengan tenang di atas kepala dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk Cemara yang hijau abadi
Yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan musik pada angin.
Yang menunjukkan entah dari mana
Dalam doaku sore ini Anda menjelma sekor burung gereja
Yang menghibas-ngibaskan bulunya dalam gerimis
Yang hinggap diranting gugurkan bulu-bulu bunga jambu
Yang tiba-tiba risau dan terbang
Lalu hinggap ke dalam mangga itu
Dalam adegan karya yaitu musikalisasi yang menyampaikan Puisi “Momen Alam”, Teater “Demo-Kreasi” disitulah mencerminkan aspirasi dan perubahan dalam konteks yang berbeda. Puisi yang menjadi lagu layaknya mengheningkan cipta ini amat magis membius para penonton dengan suasana begitu menyampaikan kedamaian dan keterhubungan manusia dengan alam, amat menggambarkan, merefleksikan, menyajikan realitas sosial dalam konteks demokrasi yang menghadap masyarakat.
Dalam puisi yang terdengar, elemen alam seperti pucuk-pucuk cemara dan burung gereja digunakan untuk menggambarkan perjalanan hidup yang dinamis. Sementara itu, monolog "Demokrasi" oleh Putu Wijaya, yang diinterpretasikan kembali dalam bentuk tulisan oleh Ali Wafan sebagian naskah "Demo-Kreasi", menyajikan kisah tentang perjuangan warga lokal di tepi kota dalam menghadapi keputusan pemerintah terkait pelebaran jalan.
Menghadirkan gagasan tentang perubahan dan perjuangan. Puisi yang menggambarkan hubungan manusia dengan alam dan kehidupan yang terus berubah, sementara “Demo-Kreasi” menggambarkan dinamika sosial dan ketegangan dalam sebuah konteks politik, menunjukkan bagaimana nilai-nilai demokrasi terkadang terkandung dalam realitas yang rumit dan terkadang membingungkan bagi individu, bahkan yang dianggap sebagai pihak yang mendukung demokrasi. amat mengejutkannya juga demokrasi bisa dibeli.
Tertarik dengan kompleksitas politik yang tergambar murni dalam "DEMO—KREASI"? Jangan lewatkan kesempatan menonton pementasan seru ini di Taman Budaya Pontianak pada 2024 mendatang! Menjadi Kabar baik dimana kami akan menampilkan pementasan yang sama untuk yang ke 3 selamanya, Pastikan untuk terus mengikuti informasi selanjutnya dari UKM Komsan agar tidak ketinggalan momen menarik ini!



Komentar
Posting Komentar